Review Futebol Nation: Buku Sepakbola yang (Terlalu) Kental Politiknya

Review Futebol Nation: Buku Sepakbola yang (Terlalu) Kental Politiknya

Kurang dari dua minggu yang lalu, saya menulis artikel ringan soal sepakbola dan politik di sini. Sama sekali bukan artikel berbobot, cuma ingin menyentil anggapan orang kalai sepakbola dan politik adalah dua dunia yang tidak bisa (atau tidak boleh?) disatukan. Sikap organisasi sepakbola seperti FIFA dan PSSI yang tegas menghukum atribut politik di dalam stadion juga jadi pemicu.

Saya ingin menulis itu sebab dipicu oleh komentar menarik nan segar dari Gerard Pique, ketika ia menjawab kecaman orang-orang terhadapnya karena ia sangat terbuka menyuarakan aspirasi politiknya. Ini, tentu saja, buntut dari ribut-ribut referendum Katalunya, yang didukung oleh Pique atas nama demokrasi (walau Pique tidak secara tegas menyuarakan mendukung merdekanya Katalunya).

Tapi di samping itu, salah satu pemicu lain yang membuat saya menulis artikel tersebut adalah buku ini; Futebol Nation: A Footballing History of Brazil karya David Goldblatt.

Futebol Nation: A Footballing History of BrazilFutebol Nation: A Footballing History of Brazil by David Goldblatt
My rating: 3 of 5 stars

View all my reviews

 

Sesuai judulnya, buku ini mengangkat lika-liku sejarah sepakbola di Brasil, hingga menjelang Piala Dunia 2014 lalu. Tapi yang paling tidak saya sangka ketika membeli buku ini adalah buku ini bukan buku sepakbola semata. Ini adalah buku sejarah hubungan politik, kultur, dan sepakbola di Brasil.

Ketimbang aspek sepakbolanya, buku ini justru lebih kental pembahasan lika-liku politik Brasil dan apa dampaknya pada sepakbola (dan juga sebaliknya; bagaimana sepakbola memberikan dampak pada politik Brasil). Ada juga pembahasan mengenai produk budaya yang berkembang dengan menggunakan sepakbola sebagai temanya, dari puisi, novel, hingga musik. Tapi 80% pembahasan buku ini adalah mengenai politik dan sepakbola.

Karenanya, Futebol Nation, bisa dikatakan bukan sebuah buku yang akan menghibur Anda. Ini bukan buku sepakbola yang super menarik seperti otobiografi Andrea Pirlo atau Zlatan Ibrahimovic. Ini bacaan yang lumayan berat secara konten – dan tidak dibantu dengan pembahasan yang kadang lepas dari jalur; terkadang, Goldblatt saya kira seperti lupa bahwa ini seharusnya menjadi buku sejarah sepakbola, dan bukan semata-mata buku sejarah politik. Seperti itulah; kadang, ada kalanya buku ini melupakan esensinya, dan terlalu asyik bercerita soal sisi politiknya.

Hal lain yang cukup membuat saya kecewa adalah bagaimana gelar juara dunia Brasil di 1958-1962 dan 1970 yang, seharusnya, begitu penting, tapi tak dibahas cukup dalam.

Okelah, pembahasannya memang ada – tapi terlalu pekat aspek politiknya. Inilah yang membuat saya mengatakan, kadang, buku ini seperti melupakan esensinya: bahwa seharusnya ini adalah buku sejarah sepakbola, bukannya buku sejarah politik dan sepakbola.

Karena, pada dasarnya, tak masalah membicarakan sepakbola dan menghubungkannya dengan politik, karena memang dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Bukan masalah juga jika aspek politik mendominasi pembahasan di sebagian besar buku. Tapi ketika buku itu seperti lepas dari jalurnya terlalu jauh, itulah yang menjadi masalah.

Meski begitu, dari sisi lain, kita bisa melihatnya sebagai pendekatan yang baru. Barangkali, Goldblatt berpikir bahwa pembaca sudah mengetahui cerita-cerita soal tiga gelar juara dunia itu, yang memang cukup sering dibicarakan dalam artikel atau buku sejarah Piala Dunia.

Namun bagi saya pribadi yang ingin mendapatkan cerita yang lebih dekat dengan sisi sepakbola, apa yang dipaparkan buku ini agak mengecewakan.

Itulah yang membuat saya sempat ingin menyerah di 2/3 buku. Untungnya saya bertahan, karena di sepertiga akhir buku lah, bagian yang ‘seru’ baru hadir. Bagian ‘seru’ itu adalah bagian ketika Brasil dalam kondisi yang benar-benar tak terkendali setelah militer mundur dari politik pada awal tahun 1980an.

Cerita-cerita yang digambarkan Goldblatt pada bagian ini benar-benar ‘brutal’. Mengerikan. Bagaimana sepakbola Brasil sebetulnya acak-acakan meski terus menghasilkan talenta-talenta luar biasa yang diekspor ke Eropa.

Cerita-cerita yang membuat saya berpikir, ternyata sepakbola Indonesia yang separah ini saja, masih lebih baik daripada sepakbola domestik Brasil yang benar-benar dalam kondisi luar biasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *