Berkat Mongolia, Indonesia U-22 AKHIRNYA Bisa Main Ala Spanyol

Berkat Mongolia, Indonesia U-22 AKHIRNYA Bisa Main Ala Spanyol

Apa yang Anda harapkan ketika Luis Milla, seorang pelatih juara Eropa bersama tim nasional Spanyol U-21 pada tahun 2011 lalu, diumumkan sebagai pelatih anyar tim nasional Indonesia?

Mungkin, seperti banyak orang lainnya, Anda mengharapkan Indonesia bisa bermain layaknya tim nasional Spanyol; bermain cantik dengan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki. Atau yang lebih ekstrem, mungkin Anda berharap Indonesia bisa bermain tiki-taka ala Barcelona – toh sang pelatih sendiri memang merupakan eks pemain Barcelona.

Tapi setelah berbulan-bulan berlalu, harapan itu sepertinya terlalu muluk. Indonesia tidak terlihat mulai mendekati gaya bermain Spanyol. Dan kekalahan 3-0 dari Malaysia di laga perdana kualifikasi Piala Asia U-23 2018 mungkin menjadi puncaknya; gaya main Indonesia yang tak jelas dan kesalahan strategi Milla membuatnya menjadi sasaran kritik keras para pecinta timnas di media sosial. Tagar #MillaOut, misalnya, mulai ramai digunakan oleh para netizen di berbagai media sosial termasuk Twitter.

Kekalahan 3-0 dari Malaysia memang sangat menyakitkan. Bukan cuma bikin malu, kekalahan itu juga bikin peluang timnas lolos ke putaran final Piala Asia U-23 mulai mengecil. Beruntung, di laga lainnya, Thailand ditahan imbang 1-1 oleh Mongolia, yang membuat peluang Indonesia untuk menjadi juara grup atau setidaknya salah satu dari lima runner-up terbaik (posisi yang bisa membuat Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia U-23) masih ada.

Mongolia sebetulnya bukan tim yang kuat-kuat amat. Menurut data di RSSSF, situs yang merangkum catatan sejarah pertandingan sepakbola dari seluruh dunia, dua tahun lalu, di kualifikasi Piala Asia U-23 2016, Mongolia U-23 finis sebagai juru kunci di grup J setelah dua kali kalah dan sekali imbang. Dua kekalahan yang mereka dapatkan pun terjadi dengan skor besar: mereka kalah 5-0 dari Tiongkok dan 7-0 dari Laos. Tujuh gol tanpa balas dari Laos, tim yang bisa disebut kurcaci di Asia Tenggara!

Oke, mereka memang bisa menahan imbang tuan rumah Thailand 1-1 di laga perdana, tapi itupun sangat terbantu dengan lapangan yang sebagian tergenang air setelah hujan deras di Bangkok. Lihat saja gol kedua mereka, yang tercipta dari titik penalti – dalam proses serangan yang berbuah penalti, Mongolia terbantu dengan genangan air di depan kotak penalti Thailand yang membuat salah seorang bek tuan rumah terpeleset jatuh.

Jadi, ya, bisa dibilang, hasil itu tidak menggambarkan sepenuhnya kekuatan Mongolia. Dan itu terbukti ketika timnas bermain menghadapi mereka di Stadion Nasional Thailand di Bangkok – Indonesia dengan mudah menang tujuh gol, tanpa balas.

Bukan cuma skornya yang mencolok; permainan timnas pun sangat berbeda dengan pertandingan pertama kontra Malaysia. Umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki yang menjadi dasar gaya bermain yang dilatih Luis Milla benar-benar berjalan di pertandingan ini, dan Indonesia benar-benar menguasai pertandingan. Dari data yang dilansir oleh penyedia data statistik sepakbola Indonesia, Labbola, melalui Twitter mereka, Indonesia mencatatkan hingga 70% penguasaan bola, berbanding hanya 30% yang dicatatkan Mongolia. Yang lebih impresif, akurasi umpan Evan Dimas dkk. juga mencapai 87%, persentase yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada 77% akurasi umpan yang mereka catatkan di laga vs Malaysia.

Apa yang jadi penyebab perbaikan performa Indonesia U-22 di laga ini?

Faktor pertama adalah perombakan line-up yang dilakukan Milla. Tak tanggung-tanggung, ada tujuh pemain yang diganti dari starting line-up timnas vs Malaysia untuk line-up vs Mongolia. Hanya Bagas Adi Nugroho, Muhammad Hargiono, Septian David Maulana, dan Marinus Wanewar yang dipertahankan sebagai starter. Evan Dimas dan Hansamu Yama, dua nama besar yang ‘hilang’ di daftar starting line-up laga pertama, akhirnya mendapatkan tempatnya kembali. Ketiadaan dua nama ini, sebelumnya, disinyalir menjadi penyebab hancurnya Garuda Muda di tangan Malaysia.

Tapi sebetulnya bukan dua nama tersebut yang menjadi faktor kunci kemenangan timnas. Saddil Ramdani, yang menggantikan posisi Febri Haryadi di lini depan, lah yang berperan penting dalam kemenangan ini. Gol pertamanya benar-benar bagus, dan tercipta di fase yang krusial. Gol ini bukan hanya membuka kemenangan Indonesia, tetapi mendorong kepercayaan diri timnas. Hal ini sangat terlihat dari bagaimana timnas bisa menyerang lebih berani sejak gol Saddil tercipta.

Kepercayaan diri ini sangat penting bagi timnas. Pasca kekalahan vs Malaysia, Milla sempat mengatakan bahwa salah satu penyebab kekalahan mereka adalah hancurnya mental para pemain karena gol cepat Malaysia. Nah, gol Saddil di menit ke-16 memberikan efek yang berbeda; ia memberikan dorongan mental bagi para pemain timnas dan menjadi pondasi kemenangan 7-0 Indonesia U-22 atas Mongolia.

Faktor kedua adalah dermawannya Mongolia dalam memberikan ruang gerak bagi para pemain Indonesia. Berbeda dengan Malaysia di laga pertama yang begitu rajin memberikan tekanan, Mongolia tidak seperti itu dan meski menumpuk banyak pemain di depan kotak penalti, tanpa tekanan berarti, para pemain Indonesia bisa lebih leluasa mengalirkan bola. Imbasnya lagi, ada banyak ruang kosong yang bisa dimanfaatkan – lihat bagaimana Saddil bisa menerima bola dengan leluasa dan menggoceknya ke dalam kotak penalti untuk mencetak gol pertama, misalnya. Atau lihat juga bagaimana mudahnya Septian David Maulana melakukan kombinasi satu-dua dengan Marinus untuk mencetak gol terakhir.

Dua faktor itulah yang membuat permainan timnas seperti benar-benar berbeda. Untuk pertama kalinya sejak dilatih Milla, umpan-umpan pendek timnas berjalan mulus, dan untuk pertama kalinya, timnas Indonesia terlihat seperti bisa bermain layaknya timnas Spanyol. Akhirnya!

Meski begitu, Merah Putih tak boleh jemawa. Ada laga pamungkas kontra Thailand yang akan menentukan nasib Garuda Muda di kualifikasi ini. Kemenangan adalah harga mati. Apalagi, Thailand U-23 berhasil menang 3-0 atas Malaysia U-23 dalam laga kedua mereka di Kualifikasi Piala Asia U-23 ini. Hasil ini membuat Thailand ada di puncak untuk sementara ini dengan 4 poin, sementara Indonesia ada di posisi ketiga dengan 3 poin. Meski juga memiliki 3 poin, Malaysia ada di posisi kedua karena unggul atas Indonesia dalam urusan head-to-head.

Thailand jelas memiliki kualitas di atas Mongolia. Untuk laga nanti, lini belakang timnas kudu waspada. Apalagi, dalam laga vs Mongolia, beberapa kali lini pertahanan Indonesia kecolongan, beruntung Mongolia kurang pintar memanfaatkan peluang.

Ini tentu akan jadi PR besar bagi Luis Milla nanti.

Foto utama: Goal Thailand

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *