Review: Sarapan Oatmeal!

Jika tidak terbiasa, sarapan oatmeal memang bukan hal yang mudah.

Serius, itu betul. Ada beberapa faktor yang bisa menentukan mengapa kita tidak berselera saat pertama kali mencoba oatmeal.

Pertama, kita sudah lama tahu bahwa oatmeal itu tidak enak. Kamu mungkin pernah mendengarnya dari orang tuamu. Atau temanmu yang sedang diet. Atau sahabatmu yang memiliki pola hidup sehat.

Kedua, bentuknya benar-benar tidak mengundang selera.

Sekilas, kita mungkin akan melihatnya seperti bubur. Dari dekat, kita bisa melihatnya bahwa ia ternyata tidak seperti bubur beras, bentuknya lebih seperti bubur bayi. Dan seberapa lahapnya pun seorang bayi makan bubur, pemandangan itu tak akan pernah membuat kita bernafsu pada bubur bayi, kan?

Ketiga, rasanya…tak ada rasa.

Saat pertama kali saya mencoba oatmeal, saya mencoba memakannya tanpa topping apapun. Diseduh dengan air panas pula, bukan susu (saya membeli oatmeal instant, tentu). Sementara nasi masih memiliki rasa walau dimakan tanpa apapun, oatmeal tidak begitu. Rasanya benar-benar hambar.

Karenanya, topping adalah bagian terpenting dari oatmeal. Ada dua pilihan untukmu: manis atau asin? Orang-orang pada umumnya mengonsumsi oatmeal dengan buah sebagai topping (dan biasanya mereka menyeduhnya dengan susu rendah lemak), tapi sekarang bukan hal aneh oatmeal dikonsumsi dengan ‘lauk’.

Saat pertama saya mencoba, misalnya, saya akhirnya memutuskan untuk menambahkan abon karena saya tidak kuat dengan kehambarannya. Ketika itu di dalam kulkas memang sedang tak ada buah dan saya sedang malas keluar. Ajaib, rasanya langsung berubah drastis!

Serius, rasanya jadi seperti bubur ayam. Padahal saya tak menambahkan perasa apapun (apalagi garam) untuk menemani si abon. Rasanya benar-benar berubah hanya dengan ditambahkan abon.

Sejak itu saya mulai membuat percobaan dengan oatmeal yang saya makan. Yang standar tentu saja dengan madu dan buah – saya paling suka menggunakan pepaya sebagai topping-nya. Biasanya oatmeal saya seduh dengan air panas dan tambahkan madu sekitar 1-2 sendok lalu diaduk rata. Setelah jadi, saya tambahkan potongan pepaya atau pisang di atasnya. Jadi.

Tapi saya pernah juga menggunakan ‘lauk’ asin untuk oatmeal saya. Toh sudah banyak sekali resep oatmeal asin di internet sana (cek ini misalnya). Dasarnya malas memasak, saya tak pernah menyiapkan lauk begitu rupa hanya untuk makan oatmeal. Alih-alih, saya menggunakan apa yang ada di atas meja makan untuk menjadi lauknya.

Pernah suatu kali saya menyeduh oatmeal dengan sop jagung. Rasanya luar biasa! Pernah juga saya menyeduhnya dengan sayur sop berisi wortel, bakso, dll. Lumayan, tapi tak seenak sop jagung, tentu.

Jika awalnya saya menggunakan oatmeal instant, sekarang saya mencoba oatmeal quick cooking. Bedanya ada di cara memasak: sementara oatmeal instant tinggal diseduh air panas/susu panas untuk dikonsumsi, oatmeal quick cooking harus dimasak di atas api selama tiga menit terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

Bentuk dan rasanya juga berbeda. Butiran oats instant terlihat lebih kecil daripada oatmeal quick cooking. Itu sepertinya berdampak pada rasanya: oatmeal instant, saya rasa, lebih ‘bersahabat’ untuk yang belum terbiasa makan oatmeal. Jika dimakan menggunakan madu, oatmeal instant lebih muda terasa manis (saya biasanya hanya membutuhkan satu sendok madu saja) daripada oatmeal quick cooking. Tapi karena dimasak di atas api dan punya butiran oats yang lebih besar, oatmeal quick cooking lebih mengembang dan lebih mengenyangkan daripada oatmeal instant.

Tapi untuk yang belum pernah makan oatmeal, saya sarankan coba oatmeal instant dulu. Atau kalau mau memulai dari sereal oat seperti Energen, misalnya, juga tak masalah, kok.

2 COMMENTS

  1. aaaak perdana bgt liat cowok ngepost breakfast pake oatmeal kan selama ini di pinterest banyakan mamah2 sehat ya yg ngepost hahaha. aku sama masgal juga favorit dikasi mashed banana sama peanut butter. boljug ah resepnya yg dicampur ama lauk2. makasi ekky!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here