Sabtu Bersama Film Indonesia

Sabtu Bersama Film Indonesia

Saya jarang sekali menonton film Indonesia, baik itu di bioskop ataupun di televisi.

Sikap skeptis atas film nasional memang masih menggantung di kepala saya, bahkan meski dalam beberapa tahun terakhir, jumlah film Indonesia yang berkualitas baik sebetulnya semakin meningkat. Apalagi tahun 2016 ini. Selain kehebohan soal Ada Apa Dengan Cinta 2 yang membuat semua orang tergila-gila, film Indonesia benar-benar menggeliat di tahun ini. Sampai tulisan ini diunggah, total ada tujuh (7!) film yang berhasil mencatatkan lebih dari satu juta penonton!

Jumlah ini bisa saja bertambah mengingat tahun 2016 masih tersisa lebih dari lima bulan lagi, dan kalau tidak salah, ada beberapa judul menarik yang akan tayang dalam beberapa bulan mendatang, dari 3 Srikandi sampai Warkop DKI Reborn.

Pada periode lebaran kemarin, bahkan di beberapa bioskop, film-film Indonesia mendominasi sementara tak ada film besar dari Hollywood yang terlalu mendominasi (beberapa judul besar yang menarik hanya Independence Day: Resurgence danThe Legend of Tarzan). Saya menonton dua di antaranya, yaitu {rudy habibie} dan Sabtu Bersama Bapak.

{rudy habibie} merupakan prekuel dari film yang sukses besar dengan menggaet lebih dari 4 juta penonton pada tahun 2012 lalu, Habibie & Ainun. Menceritakan tentang kehidupan Habibie sebelum bertemu dengan Ainun. Dalam film ini, dibahas lebih dalam bagaimana kuliah Habibie selama di Jerman, kekasihnya sebelum Ainun, dan pergolakan politik yang sudah dialaminya sejak masih menjadi mahasiswa.

Bagi saya {rudy habibie} lebih baik daripada pendahulunya, dan alasannya sederhana: film ini lebih menunjukkan Habibie yang manusiawi.

Jika Habibie & Ainun sukses memperlihatkan kebrilianan Habibie dengan bumbu kisah cinta yang menginspirasi ribuan pasangan di negeri ini, {rudy habibie} lebih banyak memperlihatkan sisi-sisi negatif sang mantan presiden: bagaimana Habibie, yang memang jenius, bagi beberapa orang masuk dalam kategori agak sombong, atau bagaimana idealisme Habibie yang terlalu tinggi membuatnya dimusuhi, dan tak disukai, bahkan oleh beberapa teman dekatnya sendiri.

Film ini memang masih menjual nasionalisme sebagai bumbu utama, dan kisah cinta segitiga yang menarik sebagai penyedap rasa, tapi porsinya terasa lebih pas. Masalahnya, mungkin, hanya satu: durasi yang terlalu panjang (hampir 2,5 jam) dengan tempo film yang tak terlalu cepat bisa membuat beberapa orang merasa bosan di dalam bioskop. Ketika saya menonton, misalnya, saya sempat melihat beberapa orang/keluarga keluar dari bioskop karena filmnya terlalu lama.

Tapi ketimbang {rudy habibie}, saya pribadi lebih terkesan dengan Sabtu Bersama Bapak. Sayangnya, usaha saya mencari novelnya agak bisa membacanya dulu sebelum menonton tak membuahkan hasil: dua kali saya berkunjung ke toko buku, dua kali juga saya tidak mendapatkannya. Sabtu Bersama Bapak memang merupakan film yang diangkat dari sebuah novel populer karya Adhitya Mulya (penulis novel Jomblo dan Gege Mencari Cinta), yang sayangnya belum sempat saya baca.

Berhubung belum membaca novelnya, saya menonton film ini tanpa ekspektasi apapun dan bisa keluar dari bioskop dengan sangat puas. Beberapa teman yang sudah membaca novelnya mengaku agak kecewa karena ada beberapa bagian penting di novel yang tak masuk skenario film (walau beberapa teman lainnya mengaku puas dengan adaptasi ceritanya), tapi secara keseluruhan ceritanya tak terasa “bolong”. Saya cukup bisa menikmati dua dunia yang berbeda antara Satya dan Saka, dan meresapi pesan-pesan penting sang Bapak yang direkam dalam banyak video.

Tentu saja film ini tidak tanpa kelemahan. Ada dua masalah besar yang mengganggu saya di sepanjang film: tone film yang kurang konsisten (terutama di bagian kehidupan Saka di kantornya, yang sebetulnya kocak tapi tonenya membuat gambar terlihat muram dan jadul) dan pemilihan aktor, dalam hal ini adalah pasangan Bapak dan Ibu yang terlihat timpang secara usia (Ibu terlihat lebih tua daripada Bapak, bahkan ketika Ira Wibowo didandani semuda mungkin sementara Abimana Aryasatya dikesankan agak sedikit lebih tua dengan kumis dan jenggot tipis serta sikap kebapakan yang ditampilkan. Oh, dan juga pemilihan aktor cilik untuk memperankan dua anak laki-laki Satya dan Risa… terasa timpang karena aktor pemeran Satya dan Saka kecil adalah dua aktor cilik yang terlihat sudah berpengalaman.

Tapi secara keseluruhan, saya sangat terhibur dengan Sabtu Bersama Bapak. Ini mungkin bukan film Indonesia terbaik yang pernah saya lihat, tapi saya sangat menikmatinya. Yang mengherankan: film ini bukanlah salah satu dari tujuh film yang sudah menembus satu juta penonton di tahun 2016 ini. Sayang sekali…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *