Saya Cina

Saya Cina

Sentimen anti-Tionghoa yang semakin meningkat akhir-akhir ini ikut membuat saya tidak nyaman. Bukan karena saya begitu membenci kebencian berdasarkan SARA (walau ya tentu saja saya membencinya), tapi karena saya juga seorang keturunan Tionghoa. Iya, saya Cina.

Bagi mereka yang mengenal saya dan mengetahui rupa saya, biasanya tidak akan percaya dengan pengakuan saya. Lha wong pacar saya sendiri saja tidak percaya kok. Kulit saya hitam. Mata memang agak sipit sih, tapi mereka percaya, itu karena saya menggunakan kacamata minus. Tionghoa dari mananya?

Saya juga sebetulnya baru tahu sekitar setengah tahun terakhir. Semuanya berawal dari obrolan saya dengan tante saya, yang mengatakan, “Tapi pengalaman ke luar negeri yang paling mengesankan itu pas ke Shanghai. Rasanya seneng akhirnya ke tanah leluhur.”

Tanah leluhur?!

Saya bingung. Saya pikir, beliau bercanda. Atau mungkin maksudnya leluhur orang Indonesia pada umumnya, yang katanya berasal dari Yunan, Tiongkok, seperti yang pernah diceritakan guru sejarah saya saat SMA dulu. Tapi ternyata bukan itu maksudnya.

Lalu cerita pun dimulai…

Ternyata dulu kakek buyut saya (kakeknya kakeknya nenek saya) adalah seorang penjelajah. Mengarungi samudera, ke negeri-negeri yang jauh. Persis seperti lagu “Nenek moyangku seorang pelaut.”

Lalu suatu hari, beliau tiba-tiba pulang ke Indonesia dari pengembaraannya… membawa seorang gadis Tiongkok. Gadis Tiongkok asli, bukan peranakan. Ceritanya beliau jatuh cinta ketika sedang singgah di Tiongkok, dan akhirnya membawa gadis itu ke Indonesia. Dan menghasilkan keturunan lah mereka… sampai ke saya, yang menurut hitungan masuk generasi keenam.

Serius, ini sulit dipercaya. Saya sudah hidup selama 25 tahun di dunia ini, tapi tidak ada yang pernah menceritakan hal itu kepada saya. Saya sampai menghubungi ibu saya saat itu juga, yang kemudian memberikan bukti berupa foto-foto dirinya saat masih kecil yang memang betul-betul seperti gadis Tionghoa.

Ibu waktu kecil

Saya pun refleks melihat-lihat kembali foto-foto saya dan adik-adik saya ketika masih kecil. Sampai akhirnya, saya sendiri juga yakin: iya, saya Tionghoa.

Saya yang sebelah kanan

Ya kan?

Ya kan?

Of course it’s not a bad thing. Sebaliknya, saya malah merasa bangga betul mengetahuinya. Saya memang selalu bangga dengan asal-usul saya. Ketika ditanya orang mana, saya selalu mengatakan: Jawa-Sunda, bukan orang Jawa atau orang Sunda saja. Selalu begitu. Walau mungkin demi simplisitas, saya sepertinya tidak akan menjawab “Jawa-Sunda-Tionghoa” ketika ditanya pertanyaan itu lagi.

Orang yang belum mengenal saya atau keluarga saya juga mungkin tak akan percaya jika kami mengatakan keturunan Tionghoa. Kulit kami sawo matang semua. Sepertinya orang terakhir yang berkulit putih dan benar-benar seperti orang Tionghoa di keluarga saya adalah almarhumah nenek saya, Tionghoa generasi keempat di keluarga. Ibu saya dulu memang benar-benar seperti gadis Tiongkok atau Jepang, tapi ketika beranjak dewasa, kultinya berubah menjadi cokelat dan matanya tak lagi betul-betul sipit. Sementara mata saya sampai sekarang masih sipit tapi bisa diperdebatkan apakah ini karena DNA atau karena saya menggunakan kacamata sejak kelas 5 SD.

Tapi terserah orang mau percaya atau tidak, saya akan dengan bangga terus mengaku, saya Tionghoa.

Setidaknya ini menjawab kenapa saya suka sekali perempuan-perempuan bermata sipit seperti perempuan-perempuan Korea, Jepang, atau Tiongkok…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 2 comments for this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *