Seandainya Masih Ada Waktu

Seandainya Masih Ada Waktu

Jika ada satu hal yang tidak saya ingat dari ayah saya, itu adalah kapan terakhir kali saya melihatnya marah.

Walau memiliki wajah agak seram dengan kumis tebal khasnya, ayah bukanlah seorang pemarah. Saya tidak ingat kapan terakhir kali ia marah, entah itu pada saya, pada ibu, atau pada adik-adik saya. Ia tentu pernah mengeluh soal mobilnya yang tak seenak dulu, atau jengkel pada lalu lintas yang semakin padat, atau menunjukkan ketidaksabarannya melihat saya yang tidak bisa-bisa menyetir mobil dengan benar, tapi ia tak pernah menunjukkan kemarahannya.

Jika ada satu hal yang sangat berbeda di antara kami berdua, barangkali sisi emosional inilah perbedaan terbesar kami.

Berbeda dengan ayah, saya adalah seorang pemarah. Saya bisa marah pada hal-hal terkecil. Saya bisa emosi karena hal-hal sepele. Jika dipikir-pikir lagi, saya memang seorang yang begitu mudah emosional, dan emosi saya kadang tak bisa dikontrol.

Begitu sulitnya saya mengontrol emosi saya, sampai-sampai ada momen-momen tertentu ketika saya berpikir; apakah saya bisa menjadi ayah yang baik suatu saat nanti, dengan emosi saya yang meledak-meledak seperti ini?

Apakah saya bisa seperti ayah?

***

Jika ada satu hal yang sangat ingin saya tiru dari ayah saya, itu adalah kesabarannya.

Sejak menuliskan kata pertama dalam tulisan ini, saya terus mengingat-ingat, kapan terakhir saya melihat ayah marah?

Saya tidak bisa mengingatnya. Entah karena ingatan saya memang begitu buruk, atau karena memang sudah begitu lama sejak terakhir kali saya melihat ayah marah.

Ibu pernah mengatakan, ada banyak sifat ayah yang menurun pada saya; dari sifat pelupa, ceroboh, jorok, sampai sifat saya yang tidak suka bekerja secara formal di kantor.

Tapi entah mengapa, kesabaran ayah tidak menurun pada saya.

Jika ada satu hal yang saya sesali dari status saya sebagai anak, itu adalah mengapa ayah tidak menurunkan sifat sabar itu kepada saya. Kenapa saya malah begitu berbeda dengan ayah dalam urusan mengatur emosi.

Jika ada satu hal yang begitu saya rindukan dari ayah, itu adalah kesabarannya.

Seandainya masih ada cukup waktu baginya untuk mengajarkan saya untuk menjadi seperti dirinya.

Untuk menjadi seorang pria yang dihormati rekan-rekannya.

Untuk menjadi seorang suami yang selalu mengutamakan keluarganya, dalam situasi sesulit apapun.

Untuk menjadi seorang ayah yang luar biasa.

Selamat ulang tahun, Ayah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *