Senjata di Tangan Kita

Sore itu seharusnya jadi sore yang menyenangkan untuk istri saya. Ia baru saja potong rambut dan menikmati perawatan di sebuah salon. Mood pun sedang bagus-bagusnya dengan gaya rambut yang lebih fresh. Tetapi lima menit setelah sampai di rumah, semuanya berbalik.

Gara-garanya, ia kecewa berat setelah piza yang ia pesan untuk takeaway tak sesuai dengan pesanan. Apalagi, ia merasa membayar lebih karena memang meminta tambahan isian. Ketika sampai di rumah dan menemukan piza-nya tak sesuai harapan, ia naik pitam.

Diteleponnya tempat kami membeli piza. Diutarakan kekecewaannya. Tetapi rupanya, sebagian adalah kesalahannya sendiri. Tak mengecek lagi tagihan yang ia bayarkan.

Pelayan rupanya lupa memasukkan permintaan tambahan istri saya. Harga yang dibayarkan pun sudah sesuai – memang ada tambahan pajak sehingga lebih mahal dari yang tertera di menu. Istri saya menutup telepon. Ia tetap marah. Pada akhirnya, buat dia, sang pelayan tetaplah bersalah.

Lalu ia mengambil telepon genggamnya. Mengetik sesuatu. Saya hampiri ia. Tebakan saya benar: ia sedang mengungkapkan kekecewaannya di media sosial.

Pelan-pelan saya katakan, “Kamu boleh mengeluh di Twitter. Enggak apa-apa. Tapi jangan sebut nama tempatnya ya. Ada rezeki orang di situ.”

“Kita enggak tahu, mungkin saja tweet kamu dibaca banyak orang. Atau bahkan viral,” lanjut saya. “Mungkin saja, gara-gara itu, usahanya jadi rugi. Pelayan tadi bisa saja kehilangan pekerjaannya. Siapa tahu, kan?”

Istri saya mengangguk. Mengerti. Wajahnya masih cemberut. Tapi ia paham maksud saya. Ia tetap mengunggah kekecewaannya. Namun, tak menyebut restoran yang bikin dia kecewa.

***

Kita semua pernah kecewa. Pada sebuah restoran. Sebuah toko. Sebuah layanan. Mungkin karena kesengajaan. Tapi lebih sering, karena kealpaan seseorang.

Kecewa adalah wajar. Ingin mengungkapkannya adalah manusiawi. Tapi yang perlu diperhatikan – dan kadang terlupakan – adalah bagaimana kita menyampaikannya.

Media sosial mengubah kita dalam menyampaikan kekecewaan. Dengan mudah, kita bisa marah-marah lewat medium online. Tidak perlu berhadapan langsung dengan yang bikin kecewa, yang dijamin bakal menghasilkan situasi tak menyenangkan.

Ilustrasi: ijmaki/Pixabay

Berkat itu, kita bisa saja seenaknya mengungkapkan kekecewaan. Memaki-maki tanpa perlu memikirkan perasaan yang dimaki. Karena toh kita tak sedang bertatap muka dengan mereka.

Makian itu bisa saja (dan seringnya) berujung pada hancurnya reputasi penyedia layanan tadi. Entah kita sengaja atau tidak.
Penghancuran reputasi membuka peluang lainnya: hancurnya sebuah bisnis. Terlebih, jika hal itu terjadi pada bisnis kecil. Bayangkan jika kekecewaan yang Anda ungkapkan, berujung pada seseorang (atau bahkan sekelompok orang) kehilangan pekerjaan.

Meski terdengar berlebihan, itu bisa saja terjadi, bukan? Istri saya memang bukan selebtweet. Atau selebgram. Atau seleb-seleb yang lain. Pengikutnya di media sosial hanya ratusan. Tetapi tren memperlihatkan: yang viral di media sosial tak melulu yang pengikutnya ribuan apalagi puluhan ribu.

Itulah mengapa, walau Anda bukan siapa-siapa di media sosial, bagaimana cara menyalurkan kekecewaan tetap perlu diperhatikan.

Tentu, kita berhak menyampaikan kekecewaan kita. Sebagai konsumen, kita boleh mengeluh jika ada layanan yang tak sesuai harapan. Tetapi apakah permasalahannya begitu fatal hingga dianggap perlu menjatuhkan bisnis mereka? Itulah yang perlu dipikirkan kembali.

Foto: chuttersnap/Unsplash

Apakah kesalahan yang dilakukan penyedia layanan membuat Anda mengalami kerugian materi yang besar?

Apakah kesalahan itu membuat Anda tersakiti secara fisik?

Apakah kesalahan mereka membuat Anda dipermalukan di muka umum?

Apakah sang penyedia layanan rasis? Melakukan kekerasan fisik maupun verbal? Atau tindakan-tindakan fatal lain yang tak bisa ditoleransi?

Jika tidak, mungkin Anda tidak perlu berlebihan dalam menyampaikan kekecewaan Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here