Sepakbola Akhirnya Menyenangkan Lagi

Sepakbola Akhirnya Menyenangkan Lagi

Kalau boleh jujur, saya sudah tak merasa ‘bergairah’ lagi soal sepakbola sejak entah berapa bulan yang lalu.

Tentu saja saya masih mengikuti perkembangan sepakbola hampir setiap harinya, karena itu adalah pekerjaan saya. Tetapi sepakbola, buat saya, tak pernah terlihat menyenangkan lagi untuk ditonton. Saya sampai berpikir, jangan-jangan saya sebetulnya tidak sepenuhnya menyukai sepakbola. Saya menyukai cerita tentang sepakbola.

Rasanya saya hampir tak pernah lagi menonton pertandingan tengah malam kecuali itu adalah pertandingan penting di fase knockout. Babak grup Liga Champions? Ah, tak perlu. Grande partita Serie A? Malas. Derby Madrid? Hmmm… sepertinya tidak deh.

Jangankan pertandingan tengah malam. Pertandingan yang kickoff-nya di waktu-waktu yang bersahabat untuk penonton Indonesia pun kadang saya lewatkan. Ketika akhirnya saya menonton bola pun, saya bisa menyambinya dengan aktivitas lain. Menonton drama Korea, misalnya.

Sepekan terakhir, kegembiraan menonton sepakbola akhirnya kembali lagi pada diri saya. Penyebabnya hanya satu: tim nasional Indonesia bermain di Piala AFF 2016.

Mendukung tim nasional sendiri bertanding di sebuah turnamen resmi (dan yang kini juga ‘diakui’ oleh FIFA) memang berbeda rasanya. Meskipun saya melakukannya di depan layar kaca, sendiri, di rumah. Meskipun harus melakukannya dengan disambi memposting berbagai hal di media sosial demi kepentingan pekerjaan.

Padahal, kalau boleh jujur lagi, saya sendiri punya ekspektasi yang sedemikian rendah pada timnas di Piala AFF kali ini. Begitu rendahnya sampai-sampai, ketika Indonesia mengakhiri pertandingan melawan Filipina dengan skor 2-2 dan memastikan posisi juru kunci sebelum laga terakhir babak grup kontra Singapura pun, saya sudah merasa puas.

Saya puas karena, meski memiliki berbagai cacat, Indonesia bisa tampil menghibur dan penuh semangat saat menghadapi Thailand dan Filipina. Saya puas karena saya dihibur, dan seperti diberikan harapan oleh Merah Putih. Saya puas karena mereka bermain lebih baik daripada yang saya harapkan.

Saya tak punya ekspektasi apa-apa soal timnas di Piala AFF 2016. Hanya berharap mereka bermain bagus dan penuh semangat. Bukan permainan setengah hati seperti pemain yang tak dibayar gajinya berbulan-bulan seperti dua tahun lalu. Jangankan bermimpi muluk menjadi juara seperti yang selalu dicanangkan para penguasa, bisa lolos ke semifinal saja sudah merupakan sebuah pencapaian hebat.

Jangan lupa, Indonesia sudah lama sekali tak bermain di level internasional, sementara liga pun terhenti setahun lebih sebelum liga tak resmi digulirkan. Persiapan memang sudah dilakukan sejak cukup lama, tapi ada hambatan lain yang menghantui: bahwa Alfred Riedl hanya bisa membawa maksimal dua pemain per klub, karena liga tak resmi sudah terlanjur mempunyai jadwal hingga Desember tanpa ada libur, karena para pengelola liga berpikir Indonesia tak bisa bermain di Piala AFF.

Dengan fakta-fakta di atas, sekaligus mengingat fakta bahwa sepakbola Filipina sudah berkembang jauh sementara Thailand sudah berada di level yang berbeda, saya pun tak memasang ekspektasi tinggi.

Tapi, harus diakui, timnas Indonesia kadang-kadang memang bisa luar biasa. Tak berdaya selama puluhan menit karena pertahanan rapat Singapura dan malah kebobolan lebih dulu di babak pertama, skuat Garuda bisa membalikkan keadaan dengan hebat. Melihat apa yang dilakukan Andik Vermansah dkk. di babak kedua pertandingan kemarin (25/11/2016) benar-benar mengembalikan kegembiraan saya akan sepakbola.

Indonesia, yang tak bermain di level internasional selama setahun lebih, bisa lolos ke semifinal Piala AFF 2016 dan finis di atas Filipina, yang tiga kali beruntun mencapai semifinal sekaligus berstatus tuan rumah, dan Singapura, sang pemegang rekor juara Piala AFF sebanyak empat kali bersama Thailand. Dan di atas semua itu, Indonesia merupakan tim dengan permainan yang paling menghibur di antara semua peserta Piala AFF 2016. Ini semua benar-benar melampaui ekspektasi saya.

Sepakbola, sekali lagi, terasa menyenangkan. Akhirnya!

Foto utama meminjam dari Tio Prasetyo untuk FourFourTwo.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *