Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

sdrhdt_mati_di_tangan

Sudah cukup lama juga saya tak membaca novel. Terakhir novel yang saya beli dan baca (dan gagal saya selesaikan) adalah “On The Road” karya Jack Kerouac, tapi berhubung kemampuan bahasa Inggris saya pas-pasan, saya jadi kurang tertarik untuk melanjutkannya dan akhirnya lama tak membaca novel sama sekali. Saya malah mulai beralih membaca komik-komik Amerika, mulai dari “Saga” dari Image Comics sampai “Nightwing” dari DC Comics. Waktu saya juga mulai dihabiskan untuk menonton serial-serial tv, terutama The Flash dan Arrow, dua serial berbasis komik DC.

Bulan ini saya ingin kembali membaca novel, dan karena sedang malas memutar otak dua kali karena perbedaan bahasa, saya mulai membaca lagi novel Indonesia. Karena tertarik dengan karya Eka Kurniawan yang saya tahu dari komentar beberapa teman, saya pun membaca “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Novel ini direkomendasikan Marini Anggitya Saragih sebagai novel Eka pertama yang wajib saya baca, dan lagipula, saya tertarik juga dengan judulnya.

Ide novel ini sebetulnya sederhana: perjalanan seorang lelaki yang kemaluannya tak bisa ereksi karena trauma. Tapi cerita dibuat dengan menarik walau tak memusingkan, dengan alur cerita maju-mundur yang berusaha membuat pembacanya merasa penasaran dengan apa yang sebetulnya terjadi pada Ajo Kawir, tokoh utama novel yang burungnya tak bisa ngaceng.

Tanpa berusaha melucu, novel ini terasa kocak, terutama karena masalah memang seputar kemaluan Ajo Kawir yang tak bisa ngaceng. Eka Kurniawan seakan berusaha menggambarkan betapa pentingnya kemaluan bagi manusia, dengan cara yang berbeda. Kemaluan tak melulu berhubungan dengan masalah seksual – kemaluan juga terkait soal bagaimana kita seharusnya menjalani hidup.

Ia dengan jeli menggambarkan perilaku sebagian lelaki: Ajo Kawir selalu berkonsultasi mengenai apapun kepada burungnya, dan ini seperti mengingatkan saya pada perilaku sebagian orang yang memberi nama bagi kemaluannya. Kemaluan, dalam novel ini, digambarkan sebagai entitas yang berbeda dengan pemiliknya Рia bukan sekadar alat, ia adalah teman dekat. Kemaluan memiliki berbagai peran: ia adalah guru, tapi di akhir cerita, ia juga digambarkan layaknya seorang anak buah.

Kemaluan mempengaruhi kebahagiaanmu, dan untuk itu, ada baiknya jika kita memperhatikan dan menjaganya dengan baik.

“Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.”

 

Cover: ekakurniawan.net

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 2 comments for this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *