Tahun 2017 Saya

Tahun 2017 Saya

Pada Juli 2017, saya naik kereta dan menginjakkan kaki di Cilacap untuk pertama kalinya, untuk melihat kawan karib saya menikah. Untuk pertama kalinya di sepanjang ingatan saya, saya memerhatikan betul bagaimana proses akad nikah dilangsungkan, beberapa meter di depan saya.

Dua bulan kemudian, saya terbang dengan ibu saya ke Jogja untuk melihat adik sepupu saya menikah di Magelang. Untuk kedua kalinya di sepanjang ingatan saya, saya memerhatikan betul bagaimana proses akad nikah dilangsungkan, tepat satu meter di depan saya.

Lalu pada 16 Desember 2017 lalu, pukul 9.10 pagi, saya duduk di depan sebuah meja dengan Anna di sisi saya, adik laki-lakinya di hadapan saya, dan seorang penghulu di sampingnya. Saya menjabat tangannya dengan erat, lalu mengucapkan kata-kata yang sudah saya hapalkan dengan cepat dan lantang. Terburu-buru mungkin lebih tepat. Setelah semua orang mengatakan sah, semuanya pun berlalu.

Anna sudah mengingatkan berkali-kali beberapa hari sebelumnya bahwa saya harus mengucapkan kata-kata sakral itu dalam satu nafas, dan itulah mengapa saya melakukannya secara cepat. Untungnya tidak ada kata yang terselip di lidah, tidak ada kesalahan. Satu kali mengucapkannya dan semuanya selesai.

Jika harus dibandingkan, ikrar akad saya seperti gaya permainan Leicester dua musim lalu: jauh dari kata indah, tapi tepat sasaran. Hahaha…

***

Tahun 2017 adalah tahun yang penuh liku. Terlalu banyak liku untuk ukuran seseorang dengan kehidupan yang relatif membosankan seperti saya. Diawali dengan malam tahun baru yang menyenangkan bersama keluarga besar, ditandai dengan kepergian Ayah dan Datuk hanya dalam jangka waktu lima bulan, dan berakhir dengan pernikahan saya dengan Yohanna Deony.

Dengan semua kondisi tersebut, tahun 2017, bagi saya, bukanlah tahun yang bisa saya sebut sebagai tahun yang sangat menyenangkan. Tapi ini adalah tahun yang benar-benar tidak akan terlupakan.

Di luar berbagai hal-hal yang emosional dan mengubah kehidupan tadi, ada juga hal-hal kecil yang menandai tahun 2017 ini bagi saya.

Tahun 2017 adalah tahun saya kembali aktif membaca buku. Berawal dari pertengahan tahun 2016 lalu, kebiasaan saya membaca yang kembali muncul bisa bertahan di hampir sepanjang tahun ini. Buku yang saya baca pun semakin variatif: untuk pertama kalinya sejak kuliah, saya tidak membaca Haruki Murakami tahun ini, dan itu adalah hal yang melegakan.

Buku terbaik yang saya baca tahun ini justru menyoal bidang medis dan kesehatan. Adalah buku The Emperor of All Maladies karya Siddhartha Mukherjee yang terbit pada akhir 2010 lalu dan memenangkan Pulitzer Prize pada tahun 2011 lalu. Buku non-fiksi ini membahas tentang sejarah penyakit dan pengobatan kanker dengan gaya yang menarik dan jauh dari kata membosankan, dan cukup mudah untuk diikuti oleh yang tidak berkecimpung di dunia medis sekalipun.

Selain itu, tahun 2017 juga merupakan tahun saya mulai belajar fotografi otodidak dengan kamera khusus, bukan kamera ponsel atau kamera saku. Di akhir tahun ini, saya bahkan melanjutkan keseriusan saya untuk belajar dengan berani berinvestasi pada lensa – padahal membeli segenggam gelas yang harganya lebih dari setengah harga kameranya sendiri adalah sesuatu yang bisa terasa berat. Rasanya sulit sekali; saat memikirkan apakah hendak membeli atau tidak, ada saja pikiran bahwa kitlens (lensa bawaan) saja sudah cukup kok, tidak usah neko-neko.

Tapi pada akhirnya saya mengambil keberanian untuk berinvestasi dan sejauh ini saya merasa lega melakukannya. Mungkin ungkapan bahwa lebih baik menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli memang benar adanya. Hehe…

Kalau kamu, apa yang menandai tahun 2017 kamu?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *