Tentang Ada Apa Dengan Cinta? 2

Tentang Ada Apa Dengan Cinta? 2

Penilaian: AADC 2 bukanlah film yang akan menuai banyak pujian sebagai masterpiece seperti film pertamanya. Tapi film ini tetap menyenangkan, berkat dialog yang lucu dan atmosfer nostalgia yang ditawarkan.

Review di bawah mungkin akan mengandung spoiler. Mungkin.

14 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menelurkan sebuah sekuel dengan para pemeran yang sama dengan film pertama. embuatnya pasti lebih sulit ketimbang membuat sekuel yang jarak tayangnya hanya terpaut satu atau dua tahun saja. Karena 14 tahun pastilah membuat fisik, sikap, pikiran, dan pengalaman diri para aktor serta para kreator di balik layar berubah, yang akhirnya membuat film satu dan film kedua terasa sangat berbeda.

Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2) adalah yang mengalaminya. 14 tahun setelah film pertamanya yang menggoncangkan kultur pop Indonesia, sekuelnya baru diluncurkan lagi. Tentu saja ada banyak yang berubah dari film pertama dan kedua. Dan tentu saja, film kedua seperti berbeda jauh sekali dengan film pertama.

Film pertama berhasil menjadi legenda karena menampilkan remaja SMA Indonesia yang apa adanya. Film ini tidak dibintangi oleh artis-artis top, karena kebanyakan pemainnya justru debutan. Tapi cerita yang orisinal, dibuat tanpa drama yang berlebihan, dan seperti cerminan dari kehidupan kita (atau Anda… saya masih SD ketika film ini muncul!) menjadikan film ini sangat dicintai oleh banyak orang.

14 tahun kemudian, para pemerannya sudah berkepala tiga, sebagian sudah berumah tangga, dan ceritanya pun menjadi berbeda.

Jika AADC pertama menceritakan lika-liku persahabatan dan percintaan remaja, AADC kedua menceritakan fase kehidupan mereka ketika mereka sudah mapan dan bahkan berumah tangga. Ia bercerita tentang bagaimana persahabatan Geng Cinta masih hidup, dan apa saja yang terjadi selama 14 tahun terakhir.

Lewat adegan-adegan dan dialog-dialog yang diucapkan, AADC 2 menceritakan apa yang terjadi pada Alya, bagaimana hubungan Rangga dan Cinta, dan bagaimana kehidupan anggota Geng Cinta lainnya. Ada kematian, patah hati, hingga perceraian yang mewarnai kehidupan mereka selama mereka tidak muncul di layar kaca, membuat para pemerannya terlihat sangat berbeda dengan mereka yang dulu, ketika masih di SMA.

AADC 2 seolah mengejar yang tertinggal selama 14 tahun mereka tidak muncul. Masalahnya, 14 tahun adalah waktu yang begitu lama, dan imbasnya adalah ada banyak hal yang mereka kejar.

Efeknya adalah film ini terlihat sangat berbeda dengan film pertama; jika film pertama adalah cerminan remaja saat itu, film kedua adalah kereta nostalgia yang membawa penonton membayangkan semua yang terjadi selama mereka vakum. Ia tak lagi menjadi cermin: sulit membayangkan persahabatan yang begitu kekal sejak SMA sampai usia 30an, walau tentu saja ada. Tapi hanya segelintir yang bisa mengaitkan kehidupannya dengan kehidupan Geng Cinta di tahun 2016 ini – sementara dulu, rasanya hampir semua remaja perempuan SMA sepertinya bisa melihat mereka dalam persahabatan Geng Cinta itu karena rasanya hal itu rasanya dialami oleh hampir semua orang.

AADC 2 memang lebih menjual nostalgia: menyenangkan rasanya melihat interaksi Rangga dan Cinta lagi, dan karenanya bukan hal yang mengherankan jika banyak orang di bioskop saya menonton berteriak kecil ketika Rangga memanggil Cinta di pertemuan pertama mereka setelah berpisah lama.

Ia juga menjual naskah yang lebih dekat ke humor: dari celetukan Milly sampai sikap Cinta yang ‘malu tapi mau’ sukses membuat banyak orang tertawa, meski sebetulnya secara keseluruhan, pengembangan cerita AADC 2 jauh dari sempurna. Dari pembuka film yang sama sekali tak istimewa sampai akhir cerita yang rasanya agak janggal (karena Rangga yang entah kenapa jadi sosok agresif di depan Cinta), ada banyak kelemahan yang membuat film ini sering membuat saya mengernyitkan dahi.

Meski begitu, saya rasa, dengan dialog yang lucu dan nostalgia yang ditawarkan, sebagian besar penonton akan menyukai AADC 2. Kuncinya adalah jangan berharap banyak: pada akhirnya, film ini tidak dibuat untuk memenangkan penghargaan di festival film atau setidaknya Piala Citra. Film ini dibuat untuk mengobati kerinduan dengan atmosfer nostalgia yang ditawarkan. Dan dalam hal itu, ia berhasil.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *