Tentang Kesalahan Cara Berpikir Sepakbola Indonesia

Tentang Kesalahan Cara Berpikir Sepakbola Indonesia

Dalam satu pekan, sepakbola Indonesia tiba-tiba mengalami perubahan.

Berawal dari pencabutan SK pembekuan PSSI oleh Kemenpora, diakhiri dengan dicabutnya sanksi FIFA atas Indonesia. Di tengah-tengah itu, ada isu perekrutan Jose Mourinho sebagai pelatih tim nasional Indonesia yang mengisinya.

Berakhirnya pembekuan dan dicabutnya sanksi FIFA ini, jelas saja, disambut dengan meriah oleh sebagian besar para penggemar dan pelaku sepakbola nasional. Meski tidak semua: ada juga pihak-pihak yang tak senang karena menganggap sanksi-sanksi ini belum seharusnya dicabut mengingat tidak ada perubahan apa-apa yang terlihat sejauh ini.

Sebetulnya bukan tanpa alasan pemerintah akhirnya mau mencabut sanksi. Pertama, akhirnya ada keinginan dari para anggota PSSI, terutama para klub, untuk mengganti para pejabat organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia ini lewat Kongres Luar Biasa (KLB). Itu, sepertinya, yang memang ditunggu-tunggu oleh pemerintah.

Kedua, pemerintah mengejar tenggat pertengahan Mei ini untuk mencabut pembekuan sebelum FIFA melaksanakan Kongres tahunannya.

Dua alasan itu membuat pemerintah akhirnya mau mencabut pembekuan PSSI. Sesuatu yang memang sudah seharusnya disambut baik. Tapi kekhawatiran pihak-pihak yang tidak suka sanksi ini dicabut juga bisa dimengerti. Selama setahun pembekuan berlangsung, memangnya apa yang sudah berubah dari sepakbola Indonesia? Apa iya pembekuan memberikan dampak positif?

Selain hilangnya peluang bermain di kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia, sepakbola nasional juga seolah mandek dengan ketiadaan liga. Turnamen hanya untuk klub-klub besar, sementara klub-klub kecil harus mati suri karena tak ada kompetisi. Pembinaan pemain muda masih mengandalkan pihak-pihak swasta, dan pembenahan di tubuh organisasi PSSI pun tak ada – perubahan baru terjadi ketika pengadilan menetapkan status tersangka pada sang ketua, La Nyalla Mattalitti.

Liga yang saat ini berjalan bukanlah liga yang diakui FIFA, hanya turnamen jangka panjang (pas dengan namanya yang menggunakan istilah championship) yang diniatkan untuk menjadi jembatan menuju Indonesia Super League selanjutnya di tahun 2017 mendatang.

Semua itu seakan menunjukkan bahwa selama setahun terakhir, kita tak melakukan apa-apa. Dengan kata lain, kita telah membuang-buang waktu selama satu tahun, tanpa adanya perubahan berarti.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana para stakeholder akan menyikapi dicabutnya pembekuan dan sanksi FIFA ini.

Kekhawatiran itu menguat dengan isu yang langsung diungkapkan oleh Menpora Imam Nahrawi setelah mencabut pembekuan PSSI. Yang dipikirkan malahan soal pelatih tim nasional Indonesia – Jose Mourinho pula! – bukannya hal-hal lain yang lebih penting: pembenahan sepakbola akar rumput, kejelasan kompetisi (bagaimana nasib ISC dan ISL nantinya?), juga pembentukan sistem sepakbola usia muda yang lebih baik.

Hal itu sebetulnya sudah terlihat sejak Menpora mengungkapkan sembilan syarat pencabutan sanksi pembekuan PSSI pada awal Maret lalu.

Dalam salah satu syarat, tertulis bahwa PSSI harus menjamin bahwa tim nasional harus juara di Piala AFF 2016, SEA Games 2017, lolos pra-kualifikasi Piala Dunia 2018, dan juara di Asian Games 2018.

Semua ini menunjukkan bahwa ada salah kaprah dalam cara berpikir stakeholder sepakbola Indonesia dalam melihat apa yang seharusnya dilakukan. Apa yang paling penting bagi Indonesia saat ini sebetulnya membentuk sistem piramida sepakbola yang jelas dan terkelola dengan baik, bukan meributkan soal prestasi tim nasional.

Tentu saja kita sangat menantikan prestasi timnas di sepakbola antar negara, dan bahwa itu adalah tujuan paripurna dari semua usaha kita, tetapi untuk mencapai ke sana, ada jalan panjang yang harus ditempuh. Ada proses yang harus dilalui, karena prestasi tidak bisa dicapai secara instan begitu saja.

Berawal dari sistem sepakbola yang jelas dan ditata dengan baik, dan kelak, semoga, akan berpuncak pada prestasi yang tinggi di dunia sepakbola.

Seperti Jerman yang memencet tombol reset setelah terpuruk di Euro 2000, yang menikmati hasilnya dengan gelar juara Piala Dunia 2014. Atau Thailand yang terpuruk di tahun 2004 dan tanpa gelar besar sampai tahun 2012, dan pelan-pelan mereformasi sepakbolanya. Dimulai dengan pencetusan Thai Premier League di tahun 2009 yang menjadi awal pengelolaan sepakbola yang lebih baik sampai kini dinikmati hasilnya ketika The War Elephant telah diakui sebagai raja sepakbola Asia Tenggara dan menantang raksasa-raksasa Asia di fase final babak kualifikasi Piala Dunia.

Semua itu menunjukkan bahwa dibutuhkan proses yang panjang untuk memperbaiki kondisi sepakbola sebuah negara agar kembali berprestasi di level internasional. Diperlukan usaha yang nyata dan langkah-langkah yang tepat mengembalikan Indonesia kembali menjadi, konon katanya, macan Asia.

Membuang Rp250 milyar untuk seorang Jose Mourinho tentu bukan salah satu langkah tepat yang dimaksud.

Juga dimuat di FourFourTwo Indonesia. Klik di sini untuk menuju halaman artikel.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *