Tentang Spider-Man: Homecoming

Tentang Spider-Man: Homecoming

Saya cukup terkejut ketika ada yang berkomentar Spider-Man: Homecoming ‘biasa aja’. Ada juga yang mengaku tertidur di tengah film. Luar biasa.

Meski kini menyatu dengan Marvel Cinematic Universe, Homecoming memang bukan Avengers 2 yang diisi adegan kehancuran kota sejak awal film atau seperti Iron Man yang penuh dengan alat-alat canggih yang membuat kita ternganga. Jika memang mencari yang seperti itu, kenapa tidak menonton Transformer saja?

Sebagai film teranyar Spider-Man dalam dunia yang telah direset ulang (ini bukan lanjutan Spider-Man-nya Toby Maguire atau Spider-Man-nya Andrew Garfield), Homecoming berhasil untuk tidak terjebak dalam narasi yang itu-itu saja; soal bagaimana ia mendapatkan kekuatan, tentang kematian Paman Ben, dan sebagainya. Marvel dan Sony, yang kini bekerja sama membuat film Spider-Man setelah Sony menguasai hak pembuatan film manusia laba-laba ini selama belasan tahun, memilih untuk menganggap para penontonnya sudah tahu kisah-kisah mendasar dalam kehidupan Peter Parker tersebut.

Itu memang sudah terlihat sejak Spider-Man versi Tom Holland diperkenalkan di Captain America: Civil War tahun lalu. Marvel dan Sony tak lagi memperkenalkan siapa Peter Parker, melainkan langsung mempertemukannya dengan Tony Stark dan membuatnya ikut dalam pertarungan antara kubu pro-registrasi dan anti-registrasi. Hanya sedikit perkenalan tentangnya di film ini; bahwa ia adalah pahlawan berkekuatan super baru di kota New York yang mulai terkenal karena video-video di YouTube. Itu saja.

Dan itu adalah strategi yang bagus. Tak terjebak dalam narasi dasar Peter Parker membuat film ini lebih ceria daripada film-film pertama Spider-Man sebelumnya, yang selalu memperlihatkan sisi gelap Peter ketika Paman Ben terbunuh. Alih-alih, Homecoming justru hanya menunjukkan sisi Peter Parker yang seharusnya sebagai seorang remaja 15 tahun: penuh energi dan begitu lugu (keluguan yang membuat Adrian Toomes alias Vulture bisa dengan mudah mengetahui bahwa Peter Parker adalah Spider-Man).

Meski saya sempat menyangsikannya ketika pertama kali diumumkan sebagai Peter Parker yang baru, Tom Holland mampu memberikan performa yang mengesankan di Homecoming. Oke, ia memang sudah berusia 20 tahun ketika berperan dalam Homecoming, tapi jarak usia yang belum terlalu jauh dengan masa ABG membuatnya bisa menampilkan Peter Parker usia 15 tahun dengan lebih baik daripada Garfield dan Maguire, yang jauh lebih tua ketika memerankan Spider-Man. Tubuhnya yang relatif kecil juga membuatnya terlihat memang lebih pantas menjadi Peter Parker (Garfield memang memiliki wajah babyface, tapi tentu kita tahu ia bukan anak SMA lagi ketika ia memerankan Peter Parker, kan?).

Marvel dan Sony memang sepertinya ingin mengembalikan Spider-Man sesuai gambaran sang pahlawan di komik-komiknya; ia adalah satu dari sedikit pahlawan super yang berusia ABG ketika memulai petualangannya, dan itu membuatnya unik. Homecoming menceritakan sisi lain Peter Parker karena kita seperti bisa melihat lebih banyak sisi Peter Parker sebagai pelajar daripada di film-film Spider-Man sebelumnya. Kita juga beberapa kali diperlihatkan bagaimana ia harus mengorbankan masa mudanya untuk membasmi kejahatan, dan aspek-aspek yang begitu manusiawi dan dekat dengan kehidupan anak-anak muda lah yang membuat Spider-Man begitu populer di antara tokoh pahlawan super lainnya.

Buat saya, Homecoming adalah film yang sangat menarik, dan keputusan Marvel dan Sony untuk mereset ulang kehidupan manusia laba-laba ini tanpa harus terjebak dalam cerita yang itu-itu saja sukses besar. Perlu dicatat juga, meski memberikan cerita yang baru, kita tetap diajak bernostalgia dengan beberapa adegan ikonik yang pernah muncul di film-film Spider-Man sebelumnya: adegan ia harus menyelamatkan kapal yang mengingatkan kita pada adegan penyelamatan kereta di Spider-Man 2 (sepertinya ada adegan serupa di Amazing Spider-Man, tapi saya lupa), dan juga adegan mencium Mary Jane dalam posisi terbalik di Spider-Man 1 yang menjadi adegan kocak ketika Peter Parker selesai menyelamatkan Liz Allan dari lift yang jatuh.

Oke, bukan hanya menarik. Ini adalah film Spider-Man yang sangat bagus.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *