Tentang Teater Terbuka di Esplanade

Tentang Teater Terbuka di Esplanade

Mestinya, malam itu, saya ikut Tio bertemu dengan dua mantan rekan kerja yang selama ini terpisah lautan dan batas negara di sebuah mall di Singapura. Disebut mantan rekan kerja karena keduanya memang sudah pindah ke tempat lain, walau masih berkantor di Singapura.

Tapi saya memilih untuk tidak ikut, karena yakin toh keesokan harinya akan bertemu, dan pergi ke Esplanade. Salah satu teman saya itu lalu berkomentar, “Turis banget!” (Tentu dalam bahasa Inggris).

Maklum, ini pertama kalinya sejak delapan tahun yang lalu saya menginjakkan kaki ke Singapura. Selama ini, saya tidak pernah punya ketertarikan untuk pergi ke salah satu tujuan liburan paling mainstream bagi orang-orang Indonesia itu, karena menganggap, “Ah, nggak ada apa-apa juga di sana.”

Ketika pertama kali saya ke sana, saya datang bersama kakek dan adik saya, dan kami sama sekali tidak pergi ke Esplanade, dan tidak berfoto dengan patung Merlion yang sangat ikonik itu.

Tapi tujuan saya datang ke sana pun bukan karena ingin berfoto dengan patung Merlion. Saya ingin melihat sendiri pertunjukkan gratis di teater terbuka (outdoor) di Esplanade, dan kebetulan bulan Mei ini sedang ada festival Super Japan.

Saya sangat ingin menonton pertunjukkan apapun di teater itu, bukan karena saya penggemar berat kultur Jepang dan ingin menyaksikan pertunjukkan tradisional Jepang yang memang tampil hari itu. Tetapi karena bangku penonton teater terbuka tersebut menghadap Marina Bay.

Salah satu pertunjukkan terbaik (walau sederhana) yang pernah saya saksikan adalah pertunjukkan Payung Teduh di atas panggung yang membelakangi danau UI, sehingga para penonton bisa menikmati syahdunya musik para jebolan FIB UI tersebut dengan latar belakang danau UI di sore hari, dan melihatnya adalah luar biasa menyenangkan. Pemandangan itu terus teringat di kepala saya, dan saya membayangkan bahwa pemandangan yang sama tersaji juga di teater terbuka Esplanade.

Dan ya, pemandangannya memang keren.

Bisa dilihat sendiri dari foto yang saya unggah di atas, yang menunjukkan sebuah kelompok musik ‘Chindon’ya’, pertunjukkan musik jalanan yang pernah sangat terkenal di Jepang di era 1950-60an, yang sedang memainkan musik mereka dengan latar belakang Marina Bay, patung Merlion, dan gemerlapan lampu gedung-gedung di sekitar area tersebut.

Sebetulnya saya lebih menyukai jika latarnya sore hari, dengan cahaya oranye matahari sore memantul di air teluk menjadi latar belakang pertunjukkan – tetapi ini saja sudah lebih dari cukup.

Inilah alasan kenapa saya ngebet banget ingin ke Esplanade setelah sampai di Singapura.

Yah, wishlist saya pada perjalanan ke Singapura bulan Mei lalu memang pendek:

  • Menonton pertunjukkan seni di teater terbuka Esplanade
  • Belanja buku di Kinokuniya Takashimaya
  • Mengunjungi Garden by the Bay

Sudah. Titik. Selesai.  Ketiganya berhasil dilakukan, walau untuk poin ketiga saya masih belum puas (karena kekurangan uang untuk beli tiket masuk dome-nya. :P).

Hehehe…

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *