Sebuah Cerita Tentang Perjalanan Panjang Perang Manusia vs Kanker

Sebuah Cerita Tentang Perjalanan Panjang Perang Manusia vs Kanker

Kanker adalah sebuah penyakit unik yang mempunyai perjalanan sejarah yang sangat panjang – ia diketahui sudah ada sejak sebelum tahun 2500 Sebelum Masehi, mendapatkan nama sejak tahun 500 SM, dan diteliti dengan sangat gencar sejak abad 19. Meski begitu, hingga hari ini, belum ada satu obat yang mampu menyembuhkan segala jenis kanker – bahkan hingga hari ini, tidak semua kanker diketahui penyebabnya. Hanya sedikit kanker yang diketahui pemicunya, seperti kanker paru-paru yang umumnya disebabkan oleh nikotin yang terkandung di dalam rokok.

Kok bisa? Padahal, perlu diketahui, penyakit ini semakin gencar diteliti di abad 20, dengan menghabiskan ratusan dan bahkan triliunan juta dollar Amerika Serikat uang pajak dan kerja sama ratusan atau bahkan ribuan ilmuan dari berbagai negara. Kenyataan ini menjadi gambaran jelas betapa mengerikannya kanker, dan betapa sulitnya manusia untuk menghindari atau bahkan melawannya.

Siddhartha Mukherjee, seorang ilmuwan India-Amerika dan ahli kanker terkemuka dari Columbia University, tak pernah menyangka ia akan menemukan sebuah perjalanan panjang yang menarik sekaligus mengerikan saat ia mulai menulis The Emperor of Maladise: A Biography of Cancer.

“Saat menulis buku ini, saya memulainya dengan membayangkan proyek saya sebagai (penulisan) ‘sejarah’ kanker. Tetapi rasanya, saya seperti tidak sedang menulis tentang sesuatu, tapi tentang seseorang,” tulis Mukherjee di halaman 77, bab ‘The Private Plague‘.

Tak seperti penyakit lain, kanker memang unik. Ia tidak menular, ia terus berkembang, dan sulit dihentikan. Dan meskipun suatu kanker awalnya menyerang salah satu anggota tubuh saja, ia bisa menyerang ke bagian tubuh lainnya seolah-olah melilit tubuh penderitanya semakin erat – suatu sifat yang kemudian memunculkan istilah metastatic.

Kanker, seperti makhluk hidup umumnya menurut teori Charles Darwin, juga berevolusi, membuatnya sulit sekali untuk dikalahkan.

Buat saya, membaca perjalanan kanker sebagai penyakit seperti membaca seorang Joker yang tak pernah bisa benar-benar dikalahkan Batman. Batman mungkin bisa memukulnya satu-dua kali, tapi sang Joker akan berbalik melawan dengan cara yang lebih cerdas dan sulit dihentikan. Ini adalah pertarungan yang tak pernah ada habisnya, persis seperti Batman vs Joker yang tak akan pernah menghasilkan pemenang yang sesungguhnya.

The Emperor of Maladise dengan baik menjadi cermin betapa panjang dan melelahkannya perjalanan manusia memerangi dan memahami kanker. 598 halaman yang terdapat dalam buku ini membuatnya menjadi buku non-fiksi terpanjang yang pernah saya baca. Tapi fakta bahwa saya mampu menyelesaikannya (meski memerlukan waktu hampir dua bulan) tanpa ada keinginan untuk berhenti di tengah jalan mencerminkan asyik dan menariknya cara penceritaan Mukherjee dalam bukunya.

Memang, alih-alih dibuat muak dan ingin berhenti membaca, saya justru seperti terus ditarik dan ditarik hingga akhir, karena Mukherjee sukses membuat saya penasaran bagaimana sebetulnya perkembangan pengobatan kanker saat ini. Buku ini membuat saya tertarik ingin mengetahui apa yang sebenarnya membuat kanker sulit sekali disembuhkan, dan mengapa kita harus selalu waspada karena kanker bisa muncul sewaktu-waktu (dalam salah satu gambaran yang diceritakan Mukherjee, bahkan ada kemungkinan sel kanker dalam tubuh kita sudah mulai aktif bertahun-tahun sebelum kanker benar-benar menyerang – ia bisa saja ada di dalam tubuh kita, pelan-pelan menjadi parasit, tanpa kita ketahui).

Hampir semua penjelasan Mukherjee dalam buku ini bisa dipahami secara logis, meskipun saya hanya memiliki pengetahuan dasar biologi dari saya SMP (dan kelas 1 SMA) dulu. Hanya ketika perkembangan penelitian kanker masuk bagian gen, kromosom, dan sel saya kesulitan untuk memahami penjelasan penulis buku yang memenangkan penghargaan Pulitzer Prize tahun 2010 untuk kategori non-fiksi ini. Selain bagian itu, mencerna cerita dalam buku ini bukanlah masalah besar (meski sesekali saya juga harus membuka Google untuk mendapatkan gambaran visual tentang apa itu nodus limfa (lymph nodes) atau bagian-bagian tubuh lain yang tak umum dibahas).

Buat saya The Emperor of Maladise bukan sekadar buku non-fiksi biasa. Ini adalah sebuah buku cerita perjalanan, layaknya sebuah novel, sebuah biografi, tentang monster yang belum bisa kita, menusia, kalahkan dan akan terus menghantui kita dan tubuh kita entah sampai kapan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There is 1 comment for this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *