Tips Membaca Buku di Tengah Gempuran Internet dan Media Sosial

Tips Membaca Buku di Tengah Gempuran Internet dan Media Sosial

Menjaga kebiasaan menjaga membaca buku di era internet dan media sosial di mana arus informasi yang serba menarik perhatian dan melaju sangat cepat ini bukanlah perkara mudah.

Pilihan memang ada di tangan kita. Toh, tidak ada ancaman penjara jika mata dan tangan kita menjauhkan diri dari gawai barang dua tiga jam untuk membaca. Namun seringkali, mereka menarik begitu kencang sampai-sampai begitu berat rasanya untuk menekan keinginan mengambil gawai dari dalam saku atau atas meja, lalu scrolling berbagai aplikasi hingga lelah.

Imbasnya, waktu kita untuk membaca pun kian tergerus.

View this post on Instagram

A post shared by Muhammad Rezky Agustyananto (@ekkyrezky) on

Dulu, ada masa ketika saya bisa menghabiskan satu buku Harry Potter yang tebalnya naudzubillah itu dalam satu hari penuh. Sekarang? Untuk satu buku setebal 200an halaman saja, saya mungkin membutuhkan 10 hari atau malah lebih.

Makanya, saya sangat suka membaca saat di atas pesawat terbang.

Mengapa? Berada di atas pesawat, Anda tidak punya pilihan untuk membuka media sosial scrolling sampai bosan (tentu saja kecuali Anda naik pesawat yang menyediakan fasilitas WiFi). Betul, ada peluang distraksi lain berupa video-video YouTube atau Netflix yang sudah diunduh sehingga bisa disaksikan secara offline. Tetapi, percayalah, menekan keinginan untuk menonton video-video itu jauh lebih mudah daripada menekan keinginan untuk membuka media sosial.

Dalam satu penerbangan selama dua jam, misalnya, Anda bisa menikmati 100 halaman buku atau bahkan lebih jika membaca tanpa berhenti. Jika tebal buku Anda hanya 200 halaman, itu artinya setengah buku bisa Anda selesaikan dalam satu penerbangan. Pulang-pergi, satu buku bisa selesai dibaca.

Itulah yang terjadi, misalnya, dalam dua perjalanan terakhir saya. Saat ke Vietnam untuk urusan pekerjaan, saya sukses menyelesaikan satu buku Mas Dalipin, Dongeng dari Negeri Bola dalam satu perjalanan saja. Sampai-sampai saya harus gigit jari saat penerbangan pulang karena hanya membawa satu buku dan tidak sempat mampir ke toko buku di Hanoi.

Saat ke Bali untuk #SekantorkeBali bersama #kumparanVekesyen, saya bisa menyelesaikan tiga perempat buku Men Without Women-nya Haruki Murakami, dan seperempatnya lagi diselesaikan di rumah. Terakhir, ketika pekan ini harus ke Singapura untuk urusan pekerjaan, saya juga berhasil menyelesaikan satu buku Discontent and Its Civilisations gubahan Mohsin Hamid.

Artinya, tiga buku terakhir yang saya selesaikan tahun ini, sebagian besar saya lahap di atas pesawat.

Asyik, bukan? Jadi, mulai manfaatkanlah perjalanan Anda menggunakan pesawat untuk membaca buku. Ini mungkin satu-satunya cara paling efektif untuk tetap bisa membaca banyak buku di tengah penjara internet dan media sosial yang begitu keras ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *