Update Sony a6000 dan Review Lensa-Lensa yang Digunakan

Update Sony a6000 dan Review Lensa-Lensa yang Digunakan

Saya begitu senang ketika pagi ini mengetahui bahwa tulisan saya soal Sony a6000 menjadi salah satu tulisan dengan jumlah komentar tertinggi di blog ini. Dalam tulisan tersebut, saya bercerita tentang mengapa saya memilih membeli kamera mirrorless ini meski ada pilihan lain di pasaran, dan meski kamera ini sudah berusia cukup ‘tua’ sejak pertama kali dirilis pada tahun 2014 lalu.

Setelah 11 bulan memiliki kamera ini, dan 9 bulan sejak menulis tulisan pertama soal Sony a6000 itu, saya merasa perlu menulis lagi bagaimana kesan saya setelah menggunakan kamera ini selama (hampir) satu tahun. Meski pada akhirnya tidak menggunakannya setiap hari atau setiap minggu, saya cukup rajin menggunakan kamera ini, dan tidak membiarkannya menganggur di atas lemari saja sampai berdebu.

Sementara tahun lalu saya lebih sering menggunakannya untuk (sok) street photography, tahun ini saya justru lebih sering menggunakannya untuk belajar football photography.

DSC08515

Seperti yang saya tulis dalam postingan lainnya pada November lalu, saya memang sangat tertarik dengan sport photography, terutama karena pengalaman saya bekerja di media sepakbola selama bertahun-tahun. Tahun ini, saya mendapatkan kesempatan langsung untuk praktik di lapangan, dalam beberapa kesempatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Saya sudah sekitar lima kali datang ke GBK untuk memotret pertandingan, termasuk pertandingan persahabatan antara Indonesia melawan Islandia pada Januari lalu. Saya juga selalu datang ketika Persija Jakarta menjamu tamu-tamunya untuk babak grup Piala AFC 2018, dan satu kali di Liga 1 2018 ketika pertandingan pembukaan juga dilangsungkan di stadion utama Indonesia ini, antara Persija dan Bhayangkara FC.

Secara keseluruhan, seperti yang saya sebut di tulisan pertama, saya sangat terkesan dengan kamera ini. Ukurannya memang relatif kecil, namun tetap enak digenggam, terutama dengan grip atau bagian untuk mencengkram dengan tangan kanan, yang sangat membantu handling ketika memotret.

Mudah digenggap, satu tangan pun bisa (walau keliatan amatirnya)

Autofocus-nya sangat cepat, dan continuous focus-nya cukup bisa diandalkan ketika memotret kegiatan olahraga/sport photography. Akurasinya oke, terutama continuous focus-nya yang bikin saya bisa mengikuti gerakan Rezaldi Hehanusa ketika mencoba melewati seorang pemain belakang Tampines Rovers seperti di bawah ini:

Kemarin mau nyoba bikin ini, tapi ternyata @initialyp_ udah ngedahuluin. Dibuat dari 19 foto aksi @rezaldihehanussa ketika mencoba melewati Irwan Shah (Tampines Rovers) di sisi kiri penyerangan Persija. Tentu saja dia berhasil. (Geser untuk melihat beberapa foto aslinya.) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . #instagram #igmaster #sony #a6000 #instasunda #peoplecreatives #shootoncamera #peopleinframe #liveauthentic #livingwithideas #instagood #vsco #vscocam #visualoflive #visualdaily #pictureoftheday #postofthepeople #featuremymind #wanderlust #mylensexperience #kinfolk #igers #pursuitofpotraits #artofvisuals #minimal #folksindonesia #passionpassport #discoverindonesia #thecreatorclass #exploreindonesia

A post shared by Muhammad Rezky Agustyananto (@ekkyrezky) on

Baterainya pun lebih baik daripada yang saya perkirakan. Sony a6000 memang mungkin maksimal hanya bisa dipakai selama satu setengah jam terus-menerus tanpa ‘diakalin’ (saya biasa mematikan layar utama dan hanya mengandalkan viewfinder elektroniknya ketika memotret pertandingan untuk menghemat daya), tetapi itu sudah cukup untuk penggunaan kasual, bukan untuk penggunaan profesional seperti memotret acara tertentu di mana kamera harus siap untuk digunakan selalu.

Ada beberapa lensa yang sudah saya gunakan di kamera ini, dan saya akan coba memberikan kesan dari masing-masing lensa, termasuk soal lensa yang perlu dipertimbangkan untuk dibeli untuk pertama kali.

Sony E PZ 16-50mm F3.5-5.6 OSS

Yang pertama tentu saja lensa kitnya (atau ‘lensa bawaan’). Seperti yang  sudah saya tulis di tulisan pertama saya soal kamera ini, sebagai lensa kit, ada banyak kekurangan yang dimiliki lensa ini. Dua yang paling besar adalah terkait ketajaman yang kalah dengan, misalnya, lensa kit Fujifilm, dan vignetting-nya yang cukup parah ketika memotret dalam mode RAW.

Satu-satunya alasan mengapa saya masih mempertahankannya saat ini dan tidak menjualnya setelah membeli lensa baru adalah focal range-nya yang sangat lebar: 16mm (atau setara 24mm di kamera full frame). Ketika membutuhkan wide angle karena memotret di ruangan yang sempit, lensa ini akan sangat berguna, terutama jika memang belum memiliki lensa wide angle lainnya.

Cek foto-foto yang saya ambil dengan lensa ini:

Canon FD 50mm f1.4 SSC (dengan adaptor FD to NEX K&F Concept)

Sebelum mempunyai cukup dana untuk membeli sebuah lensa prime, saya sangat tergoda untuk menggunakan lensa jadul yang bisa digunakan di kamera ini dengan adaptor khusus. Apalagi tahun lalu, teman saya menggunakan lensa vintage untuk membantu pemotretan pre-wedding saya. Tambahlah saya tergiur. Dengan berbagai pertimbangan, saya akhirnya membeli Canon FD 50mm f1.4 SSC, dan menggunakannya dengan adaptor dari K&F Concept.

Sialnya belanja online, walau mendapat lensa dengan harga yang sangat murah, saya ternyata mendapat lensa yang sudah tidak bisa diandalkan: berjamur dan, yang paling parah, ada fog. Jamur sih bisa dibersihkan, tapi fog ternyata tidak bisa, bahkan meski sudah saya bawa ke tempat reparasi.

Coba cek hasil foto-fotonya di sini.

Akhirnya lensa ini saya jual rugi. Pelajaran: lebih cermat ketika membeli lensa vintage, dan jangan mudah tergiur dengan harga murah.

Tetapi kalau mendapatkan lensa dalam kondisi yang sangat bagus dengan coating yang tebal, sebetulnya lensa ini bagus lho. Dan yang bikin saya tertarik adalah, lensa jadul seperti ini biasanya punya karakter tersendiri. Coba cek review dari blog The Weekend Lens ini.

Sony E PZ 18-105mm f/4

Saya pertama kali mencoba lensa ini ketika meminjamnya dari Tama pada November lalu, dan saya tulis kesannya di sini.

Saya harus katakan, kalau ada dana lagi, mungkin lensa inilah yang ingin saya beli selanjutnya. Pertama, jelas, kualitasnya bagus dan hasil yang saya dapatkan sangat tajam, sangat oke. Kedua, lensa ini sangat fleksibel, seperti all-around player di sepakbola: ia bisa sangat wide, tapi untuk tele pun jangkauannya cukup jauh terutama karena digunakan di kamera dengan sensor APS-C yang berarti jangkauannya tertolong crop factor.

Buktinya, ketika saya tidak bisa menyewa lensa 70-200 untuk pertandingan Persija vs Song Lam Nghe An karena terlambat memesan sehingga sudah keduluan orang lain, saya tetap mampu mendapatkan hasil yang cukup oke. Memang, jangkauannya sangat terbatas, tetapi jika mampu mengakali keterbatasan itu, lensa ini tetap bisa digunakan untuk sport photography sekalipun.

Ketiga, harganya relatif terjangkau, sekitar Rp7 jutaan. Masih masuk akal untuk kocek pribadi, ketimbang 70-200 yang seharga satu buah motor bebek/matic.

Cek foto-foto yang saya ambil dengan Sony E PZ 18-105mm f4:

DSC07552

Sigma 30mm f1.4 DC DN Contemporary

Ini dia lensa utama saya sekarang. Dari banyak review yang saya baca, ini bisa dibilang lensa prime terbaik untuk Sony a6000, dan ketajamannya bisa dibilang lebih oke dibanding Sony 30mm f1.8 yang memiliki harga yang sama namun dengan bukaan yang lebih lebar. Saya belum pernah mencoba Sony 30mm f1.8 dan saya tidak bisa mengatakan ini lebih baik daripada lensa bikinan Sony, tapi yang pasti satu: saya sama sekali tidak menyesal membeli lensa ini.

Kekaguman saya pada lensa ini bertambah baru-baru ini ketika saya meliput Persija vs Johor Darul Ta’zim beberapa hari yang lalu dengan hanya bermodalkan lensa ini. Meski tentu saja sangat terbatas (saya hanya bisa memotret bagian selebrasi pemain saja, atau mengakalinya dengan cropping), saya harus katakan saya sangat terkesan dengan ketajamannya.

Marko Simic Second Goal - Persija Jakarta vs Johor Darul Ta'zim - AFC Cup 2018-3

Lihat foto di atas, misalnya. Foto tersebut sebetulnya hasil cropping yang parah – ukurannya tak sampai sepertiga dari ukuran asli foto yang berdimensi 6000 x 4000 pixel. Tapi fotonya tetap terlihat tajam, yang membuktikan betapa berkualitasnya lensa ini.

Saya betul-betul puas dengan lensa ini, dan ingin merekomendasikannya kepada siapapun yang ingin membeli lensa untuk pertama kalinya untuk kamera Sony a6000 atau Sony E Mount lainnya.

Oh, tentu saja lensa ini ada kelemahannya, yang paling terasa adalah soal flare, dan autofocus yang tidak sebagus lensa Sony. Oh, dan juga lensa ini tidak memiliki image stabilization.

Cek foto-foto lainnya yang saya ambil dengan lensa ini:

Nasi Pedas Ibu Hanif 2

Sony FE 70-200mm f/4 G OSS

Bahkan setelah tiga kali menggunakannya, lensa ini masih terasa ‘asing’ buat saya. Dengan focal range yang besar (apalagi dengan crop factor yang membuat focal range terbesar di lensa ini setara dengan 300mm di kamera full frame), cukup sulit untuk mengendalikannya demi mendapatkan foto close-up yang bagus dalam situasi pertandingan sepakbola yang begitu cair.

Lensanya akan terasa begitu besar bagi Sony a6000 yang mungil, dan meskipun bertipe FE, yang dibuat untuk kamera sensor full frame seperti Sony seri a7, tidak ada masalah sama sekali ketika menggunakannya di Sony a6000 yang menggunakan sensor APS-C. Soal ketajaman dan kualitas AF tak perlu diragukan lagi, menggunakan lensa Sony memang, pada dasarnya, ‘sangat aman’ untuk urusan stabilitas, ketajaman, dan autofocus.

Cek foto-foto yang saya ambil dengan lensa ini:

DSC08696

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *