Baru sekitar dua bulan yang lalu Pokemon Go dirilis oleh Niantic di Android, tapi gemanya kini sudah berkurang drastis. Dalam dua bulan, game ini telah merasakan segalanya: merasakan kehebohan yang luar biasa, memecahkan rekor demi rekor, menjadi kontroversi, hingga merasakan penurunan jumlah pengguna yang drastis.
Hilangnya demam Pokemon Go pun bisa dirasakan di sekeliling saya: adik saya sudah meng-uninstall aplikasinya sejak akhir Juli, sedangkan pacar saya sudah menghapusny dari ponselnya sejak Agustus lalu.
Saya sendiri sudah berhenti memainkannya sejak dua-tiga minggu yang lalu, meski belum memutuskan untuk menghapus aplikasinya dari handphone.
Jadi, mengapa Pokemon Go sudah banyak ditinggalkan walau umurnya baru dua bulan?
Pokemon Go, game setengah matang
Hingga satu bulan pertama Pokemon Go diluncurkan, masalah server terus menerus dirasakan oleh para pemainnya. Lucunya, server Pokemon Trainer Club adalah yang paling parah mengalami masalah server selama sebulan pertama itu. Ironis.
Permasalahan server yang berlarut-larut seolah menunjukkan bagaimana Niantic, sang pengembang game, seperti tak siap sama sekali menghadapi kehebohan atas game ini, yang terjadi di tiga minggu pertama setelah peluncuran Pokemon Go.
Inilah yang membuat saya menganggap Pokemon Go ini seperti game setengah matang: selain masalah server, jangan lupa kalau game ini juga mengalami persoalan in-built radar yang akut. Dan inilah faktor keduanya…
Radar pokemon yang bermasalah dan akhirnya malah dihapus
Ketika pertama kali diluncurkan, Pokemon Go mengenal radar pokemon di mana jarak pemain dengan Pokemon ditandai dengan jumlah jejak yang muncul. Tiga jejak artinya pokemon itu berjarak cukup jauh dari pemain dan pemain harus berjalan untuk mencarinya, sementara satu jejak artinya pokemon tidak terlalu jauh dari pemain. Semuanya berjalan baik sampai setidaknya satu minggu pertama.
Kemudian muncul lah permasalahan yang bernama three-step glitch.
Karena glitch ini, radar pokemon di dalam game tidak bisa memberikan tanda jejak yang sesuai antara jarak pokemon dengan pemain. Jauh ataupun dekat, jumlah jejak yang muncul pastilah tiga. Karenanya problem ini dinamakan three-step glitch.
Meski tak mudah dipahami cara kerjanya, radar pokemon sejatinya sangat berguna bagi para pemain Pokemon Go. Ingat, ketika itu bahkan sempat muncul grafis ‘rumusan’ radar pokemon agar pemain bisa menebak-nebak ke mana dan seberapa jauh mereka harus berjalan untuk bisa menangkap pokemon yang kita mau yang muncul di radar.

Three-step glitch membuat ‘rumusan’ yang sudah dibuat pemain-pemain Pokemon Go itu jadi tak berguna. Pemain-pemain Pokemon Go pun dipaksa untuk berjalan tanpa panduan saat mengejar pokemon yang diinginkan.
Kocaknya, alih-alih memperbaikinya, Niantic malah menghapuskan sama sekali fitur jejak, meski tetap mempertahankan fitur radar pokemon. Pemain-pemain Pokemon Go benar-benar dipaksa untuk mencari pokemon ‘tanpa panduan’ apapun.

Solusi yang sungguh cerdas.
Sampai terakhir kali saya memainkan game ini, Niantic seperinya belum memperbaiki sama sekali permasalahan ini. Padahal sebelumnya sempat muncul rumor bahwa Niantic sedang berusaha mengembangkan radar baru yang lebih baik dan akan lebih membantu pemain-pemain Pokemon Go.
Matinya aplikasi pihak ketiga yang disukai para pemain Pokemon Go
Berhentinya Pokevision (dan beberapa aplikasi pihak ketiga lain yang memang tak resmi) beroperasi menjadi pukulan bagi para pemain Pokemon Go. Aplikasi-aplikasi ini memang ilegal, tapi mereka berhasil membuat game ini lebih menyenangkan. ‘Kematian’ Pokevision adalah yang paling memukul - website ini dinilai berhasil menjadi alternatif ketika radar pokemon di dalam game gagal berfungsi sebagaimana mestinya.
Ini strategi yang buruk buat Niantic: ketika fitur built-in mereka tak berfungsi dengan baik, mereka malah mematikan aplikasi pihak ketiga yang sebetulnya membantu mempermudah kehidupan para pemain Pokemon Go.
Tindakan Niantic untuk membekukan akun-akun yang berlaku curang (dengan menggunakan bot atau aplikasi yang membantu tindakan curang seperti Nox Player) memang sudah sepantasnya dilakukan. Tapi aplikasi seperti Pokevision atau aplikasi radar pihak ketiga semestinya tak perlu diperangi.
Apalagi kalau mereka sendiri tidak bisa memberikan fitur radar yang pantas digunakan…
Sulitnya mendapatkan Pokemon yang berbeda
Masalah ini, saya rasa, paling dirasakan oleh pemain-pemain Pokemon Go yang tinggal dan hidup sehari-hari di pinggiran kota atau suburban.
Pokemon Go memang seperti sangat berpihak pada pemain-pemain Pokemon Go yang tinggal atau bekerja di tengah kota, yang tak jauh dari pusat keramaian. Di satu sisi, ini memang cukup wajar: ada banyak landmark yang penting di tengah kota, yang jadi semacam hotspot untuk pokemon-pokemon langka berkumpul. Di sisi lain, ini menyulitkan
Tidak semua pemain Pokemon Go bisa pergi ke pusat-pusat keramaian kota atau landmark kota seperti Monas atau Kota Tua setiap hari, atau bahkan setiap minggu. Apalagi bagi yang tinggal di pinggiran kota seperti Bekasi, Depok, atau Tangerang (Depok cukup beruntung sih punya Universitas Indonesia yang punya banyak sekali pokestop).
Saya tinggal di Bekasi sekarang, dan suatu hari, saya sengaja pergi ke salah satu mall di dekat rumah untuk mencari pokemon. Saya merelakan satu lure saya gunakan agar bisa memaksimalkan peluang saya mendapatkan pokemon. Satu jam bermain, pokemon yang saya dapatkan cukup sedikit dan hanya itu-itu saja.

Ini tentu mengesalkan. Apakah saya harus nongkrong di Monas atau Kota Tua atau keliling Taman Mini setiap hari untuk bisa melengkapi pokedex saya?
Bosan rasanya kalau membuka Pokemon Go beberapa kali dalam sehari dan yang kita dapatkan hanya itu-itu saja. Caterpie lagi, Weedle lagi, Pidgey lagi, Rattata lagi…. ayolah…
Dan saya rasa ini jadi alasan terbesar kenapa saya (dan banyak orang lainnya) akhirnya memutuskan untuk berhenti bermain Pokemon Go.
Pada akhirnya game ini sepertinya hanya buat mereka yang benar-benar ‘niat’ untuk mencari pokemon. Mereka yang benar-benar penggemar berat pokemon, yang ingin menjadi Ash di dunia nyata.
Buat saya, dan mereka yang masuk golongan casual players, Pokemon Go jelas membosankan.
Tapi untuk saat ini sepertinya saya belum akan menghapus aplikasi ini dari handphone. Masih menunggu update besar berikutnya yang, siapa tau, bisa menghadirkan inovasi besar yang membuat game ini kembali menyenangkan…
