Tentang Berhenti Mengeluh

Tentang Berhenti Mengeluh

Seorang bapak paruh baya dengan penampilan yang sangat sederhana duduk berjemur matahari pagi di atas kursi penumpang becaknya yang diparkir di sudut perempatan komplek. Becak itu sudah terlihat dimakan usia, dan sangat sederhana. Sementara di seberangnya, hanya beberapa meter dari si becak, tiga mobil diparkir di depan sebuah rumah dua lantai dengan tampilan yang elegan dan terkesan mewah. Sebuah pemandangan kontras yang biasa saya lihat ketika lari pagi di komplek tempat saya tinggal sekarang.

Becak si bapak adalah satu-satunya yang tersisa yang masih mangkal di dalam komplek. Dulu, selain si bapak, ada beberapa temannya yang juga mangkal di sana, tapi menyadari bahwa peluang mendapatkan penumpang sangat kecil, berangsur-angsur mereka pindah ke depan komplek, tepatnya di sebuah pertigaan di mana penumpang angkot yang akan menuju komplek perumahan dan sekitarnya akan turun. Itulah yang diincar mereka: para penumpang angkot yang enggan berjalan kaki cukup jauh ke dalam komplek.

Saya tidak tahu alasan kenapa si bapak masih bertahan untuk mencari penumpang di dalam komplek. Padahal peluangnya sangat kecil - saya hampir tidak pernah melihatnya mengayuh becak dengan penumpang duduk di dalamnya. Hanya satu dua kali saya melihat ia mengayuh becak sambil membawa beberapa barang yang sepertinya pesanan orang, seperti kayu-kayu untuk rumah yang sedang dibangun dan semacamnya.

Saya juga tidak tahu alasannya untuk tetap bertahan mencari nafkah dari becak. Di era ketika sepeda motor bisa didapatkan dengan uang muka rendah dan cicilan yang cukup rendah (walau pelunasannya memakan waktu bertahun-tahun), pengguna becak pastilah semakin sedikit. Apalagi di dalam komplek perumahan seperti tempat saya tinggal ini. Perumahan ini memang bukan perumahan mewah (masih jauh di bawah perumahan Galaxy atau Kemang Pratama yang tak jauh dari sini), tapi hampir setiap rumah rasanya memiliki kendaraan pribadi, minimal sepeda motor.

Saya pernah mendengar kalau ia biasa dipekerjakan juga untuk membantu mencabuti rumput atau semacamnya oleh orang-orang komplek. Pekerjaan-pekerjaan kasar yang upahnya tak terlalu besar. Entah apakah ia pernah mencoba bekerja di sektor lain atau tidak, tapi sejak saya pertama ke perumahan ini sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu, bapak ini dan becaknya selalu ada di sana.

Mungkin ia gigih meyakini bahwa rezekinya datang lewat becaknya. Mungkin ia tak punya pilihan lain selain mengayuh becak. Mungkin ia hanya ingin bernostalgia setiap pagi (si bapak mangkal di perempatan komplek sampai sekitar jam 9 atau jam 10 pagi). Apapun alasannya, rasanya saya sangat berterima kasih kepadanya dan becaknya yang reot.

Becaknya yang reot, yang hampir selalu saya lihat di perempatan komplek, berhasil mengingatkan saya setiap hari untuk bersyukur. Bersyukur karena saya mempunyai pekerjaan yang lebih baik, dengan bayaran yang jauh lebih baik. Bersyukur karena saya bisa mencari nafkah tanpa banyak mengeluarkan keringat, tanpa berpanas-panasan di bawah sinar matahari setiap hari.

Becak reot itu mengingatkan saya berhenti iri pada orang lain. Iri pada orang-orang dengan pekerjaan yang lebih baik, pada mereka yang bisa menyesap kopi panas dari kafe-kafe populer setiap hari, atau pada mereka yang bisa makan-makan enak bersama teman-temannya di restoran mahal. Iri pada mereka yang setiap hari bekerja dengan pakaian yang bagus, di kelilingi teman-teman kerja yang memberikan dinamika hidup yang membuat hidup ini lebih menarik - sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan di pekerjaan saya sekarang.

Becak reot itu mengingatkan saya bahwa ada orang-orang yang lebih kurang beruntung. Ia juga mengingatkan saya untuk terus bekerja keras setiap hari, sesulit apapun kondisinya.

Becak reot itu mengingatkan saya untuk berhenti mengeluh…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *